Cara Belajar Pangeran Siddharta

Kepandaian Pangeran Siddharta tidak muncul tiba-tiba. Meskipun ia adalah seorang Pangeran, ia tetap giat belajar dengan berbagai cara. Bahkan usaha belajar yang dilakukan Pangeran telah dimulai sejak kehidupan lampaunya ketika menjadi Bodhisattva. Karena itulah tidak heran jika pangeran memiliki kecerdasan yang luar biasa. Dalam pelajaran ini kamu akan mempelajari cara cara pangeran Siddharta belajar dengan tujuan agar kamu terinspirasi untuk giat belajar sehingga menjadi hebat seperti Pangeran Siddharta.

Kisah Putra Mahadhana
(Kisah tentang Akibat tidak Belajar)
Ini adalah kisah tentang seorang anak jutawan, anak orang yang amat kaya di Benares. Ia bernama Mahadhana. Mereka memiliki kekayaan sebanyak delapan ratus juta keping uang. Kedua orang tuanya sangat memanjakan Mahadhana. Mahadhana pun tidak belajar dan tidak bersekolah. Ayah dan Ibu Mahadhana berpikir, “Harta kami amat banyak, untuk apa anak kami belajar dan bekerja lagi, lebih baik ia bersenangsenang”. Kemudian mereka membiarkan anaknya bersenang-senang saja. Mahadhana tidak pernah belajar. Hidupnya digunakan untuk bersenang senang. Ia hanya bernyanyi, menari dan bermain musik, setiap waktu. Di kota yang sama terdapat pula orang kaya lainnya. Ia juga mempunyai kekayaan sebanyak delapan ratus juta keping uang. Mereka mempunyai seorang anak gadis yang cantik. Mereka juga mempunyai pikiran yang sama yaitu, memanjakan anaknya tidak belajar dan tidak bersekolah. Mereka membiarkan anak gadisnya bersenang-senang. Seperti kebiasaan pada waktu itu. Ketika kedua anak ini dewasa, mereka dinikahkan. Sehingga kekayaan mereka menjadi dua kali lipat. Jadilah mereka sebagai orang yang sangat kaya di kota itu. Beberapa waktu kemudian kedua orang tua mereka meninggal dunia. Meskipun mereka sangat kaya karena sejak kecil tidak pernah belajar dan tidak bersekolah, mereka menjadi orang yang bodoh. Mereka hanya tahu cara menghabiskan uang. Mereka tidak tahu cara menyimpan atau mencari uang.Di kota terdapat sekelompok orang yang kebiasaannya bermabuk-mabukkan dengan minum minuman keras. Melihat Mahadhana, mereka berpikir alangkah baiknya kalau mereka dapat membuat Mahadhana bermabuk-mabukkan dan menghamburkan uangnya. Dengan demikian mereka dapat ikut bersenang-senang.

Cara Belajar Pangeran Siddharta

“Kalau anak jutawan ini menjadi pemabuk dan menjadi teman kita, dapat kita peras kekayaannya. Jadi kita harus memperlihatkan kepadanya, bagaimana caranya bermabukmabukkan”.
Mereka lalu menyediakan minuman keras, kemudian mereka duduk di jalan yang biasa dilalui Mahadhana. Ketika Mahadhana mendekat, mereka segera minum minuman keras.
Orang-orang itu berkata; “Semoga Tuanku, anak jutawan hidup seratus tahun! Dengan bantuanmu kami dapat makan dan minum sepuas hati! Cobalah minuman ini Tuanku, enak sekali”.
Mendengar kata-kata mereka, Mahadhana bertanya kepada pelayan yang mengiringinya; “Apa yang mereka minum?”
“Minuman istimewa Tuanku”
“Enakkah rasanya?”
“Tuanku di dunia ini, tidak ada minuman yang lebih enak dari pada minuman ini”. 
“Jadi!” kata Mahadhana, “Saya harus mencoba”. Kemudian ia menyuruh pelayannya mengambil minuman itu sedikit. Dicobanya, lalu ia mengambil sedikit lagi, sedikit lagi, akhirnya ia menjadi mabuk. Tidak perlu waktu lama untuk membuat Mahadhana menjadi mabuk. Demikianlah sejak saat itu Mahadhana menjadi pemabuk.

Akhirnya perbuatan buruk itu menjadi kebiasaannya. Setiap mabuk ia menghamburkan uangnya. Dengan meraup uang di tangannya, ia berteriak-teriak: “Ambillah uang ini dan bawakan saya minuman! Ambillah uang ini bawakan saya makanan enak! Orang ini pandai bermain dadu, orang ini pandai bermain musik! Berikanlah orang ini seribu keping dan orang itu dua ribu keping!”. Dengan cara seperti itulah ia menghabiskan uang warisan orang tuanya. Ketika teman-temannya tahu uangnya habis, mereka berkata kepada Mahadhana; “Tuanku, hartamu sudah habis. Apakah istrimu punya uang?”. “Oh ya, ia juga punya uang, ambillah uang istriku”. Kemudian ia pun menghabiskan uang Istrinya dengan cara yang sama. Setelah uangnya habis, Mahadhana menjual ladang, tanah dan kebun, juga kereta kudanya. Ia menjual semua peralatan makannya, selimut, mantel dan tempat tidurnya. Akhirnya semua hartanya habis terjual, ia jatuh miskin. Hidupnya tidak karuan lagi. Di usia tuanya ia menjual hartanya yang terakhir yaitu rumahnya. Tidak ada lagi harta yang tersisa sedikitpun. Ia harus pergi dari rumahnya sendiri. Bersama istrinya, ia menemukan sebuah gubuk, yang menempel di sisi dinding tembok sebuah rumah. Dengan mangkuk yang pecah, ia menjadi pengemis meminta belas kasihan orang lain. Ia hanya makan makanan sisa yang dibuang orang.

Dalam kisah tersebut Buddha mengatakan bahwa: “Sebenarnya, apabila ia tidak menghamburkan harta bendanya, mau belajar dan menjalankan usahanya dengan baik, ia akan menjadi orang yang terkaya di kota ini. Apabila di usia setengah bayanya ia tidak menghamburkan harta bendanya, tetapi menjalani usahanya, ia akan menjadi orang kaya nomor dua di kota ini. Dan apabila di usia tuanya ia tidak menghamburkan harta bendanya, tetapi menjalankan usahanya, ia akan menjadi orang kaya nomor tiga di kota ini. Tetapi sekarang ia jatuh bangkrut, bodoh, dan tidak mengenal Dhamma. Ia menjadi seperti seekor bangau yang berdiam di danau kering”.

Cara Belajar Pangeran Siddharta
1. Belajar dengan cara mengamati
Pangeran Siddhartha senang mengamati lingkungan sekitar. Ia mengamati dengan saksama sesuatu yang terjadi dan berpikir mengenai berbagai hal. Suatu hari ayahnya mengajak ke perayaan membajak sawah. Saat Ayahnya memulai upacara dengan menunggang sepasang kerbau. Pangeran Siddharta duduk di bawah pohon jambu sambil mengamati semua orang. Pangeran Siddharta memperhatikan, ketika orang-orang sedang bersenang-senang, sepasang kerbau harus bekerja keras membajak sawah. Kerbau-kerbau itu terlihat tidak senang. Kemudian pangeran Siddhartha mengamati makhluk lain di sekitarnya. Ada seekor kadal sedang memakan semut. Tiba-tiba ular datang, menangkap kadal, dan memakannya. Kemudian datanglah seekor burung dan memangsa ular tersebut.

2. Belajar dengan cara bertanya
Pangeran Siddharta terbiasa mengamati berbagai peristiwa yang dilihatnya. Pangeran juga terbiasa mengamati semua hal yang dibaca dan dirasakannya. Dari semua yang dilihat, dibaca dan dirasakan timbul berbagai pertanyaan dalam hatinya. Mulai dari pertanyaan yang mudah dijawab hingga pertanyaan yang sulit dijawab. Jika apa yang diamati tidak dipahami, Pangeran selalu bertanya. Demikian juga ketika ada informasi yang belum jelas, Pangeran juga bertanya. Pangeran Siddharta juga senang bertanya untuk memperoleh informasi tambahan ketika informasi yang diterima dirasa masih kurang. Pangeran senang bertanya karena rasa ingin tahunya sangat tinggi. Seperti peristiwa pada perayaan membajak sawah. Pangeran pun bertanya-tanya dalam hati. Apakah itu? Mengapa kerbau membajak sawah? Mengapa kadal memakan semut? Mengapa kadal dimakan ular? Bagaimana ini semua bisa terjadi? Demikianlah rasa ingin tahu Pangeran Siddharta terus mendorongnya bertanya.

3. Belajar dengan cara mencoba dan mencari informasi
Hal lain yang patut dicontoh tentang cara belajar Pangeran Siddharta adalah kemauan untuk mencoba dan mencari informasi. Setelah mengamati dengan saksama suatu masalah, dan timbul pertanyaan dalam hatinya. Pangeran Siddharta melanjutkannya dengan cara mencoba dan terus mencari informasi. Pada peristiwa membajak sawah misalnya, berawal dari mengamati, kemudian bertanya-tanya. Pangeran Siddharta kemudian mencari jawaban dengan cara mecoba bermeditasi. Dengan meditasi mendalam Pangeran Siddharta mencapai tahap ketenangan Jhana. Demikian juga ketika Pangeran Siddharta menyelamatkan angsa. Ketika mengamati angsa yang dipanah Dewadatta, dalam diri Pangeran Siddharta timbul pertanyaan “Mengapa hewan ini dipanah? Bagaimana cara menyelamatkannya? Apakah hewan ini dapat diselamatkan?” Atas dasar kasih sayang, Pangeran Siddharta kemudian mencoba menyelamatkan angsa. Tetapi Dewadatta menentangnya. Terjadilah perdebatan antara Pangeran Siddharta dan Dewadatta untuk memiliki angsa. Karena kebenaran tidak ditemukan dalam perdebatan. Pangeran mengusulkan untuk mencari informasi kebenarannya di pengadilan. Pangeran ingin tahu kebenaran tentang hak siapa angsa tersebut Demikianlah, Pangeran Siddharta selalu mencari tahu kebenaran dengan cara mencoba dan mencari informasi sebanyak-banyaknya.

4. Belajar dengan cara menalar
Belajar menalar adalah belajar dengan cara mengolah informasi yang didapatkan, serta berusaha menemukan hubungan keterkaitanya satu sama lain. Dari proses menalar inilah akhirnya diperoleh kesimpulan. Demikianlah, setelah Pangeran Siddharta mencoba-coba
dan mengumpulkan informasi, kemudian Pangeran mengolah informasi yang didapatkanya. Selanjutnya mencari hubungan keterkaitan antar informasi yang ada. Misalnya, pada saat perayaan membajak sawah, ketika pangeran Siddharta bermeditasi, dalam meditasinya muncul penalaran. Dari penalaran itu muncullah pengertian bahwa semua makhluk hanya senang sebentar. Kemudian berakhir dengan menderita. Seperti halnya kadal yang hanya senang sebentar ketika makan semut, tetapi kemudian menderita karena dimakan ular, dan demikian seterusnya. Pada saat perdebatan kepemilikan angsa, ketika Pangeran Siddharta menghadiri sidang, diperoleh informasi bahwa hidup adalah milik bagi orang yang ingin menyelamatkan kehidupan. Sedangkan kematian adalah milik bagi orang yang ingin melenyapkan kehidupan. Ternyata angsa yang dipanah Dewadatta masih hidup. Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa Pangeran Siddharta berhak memiliki angsa, karena Pangeran Siddharta yang berusaha menyelamatkannya. Demikainlah, Pangeran Siddharta memperoleh pengetahuan dengan cara menalar.

5. Belajar dengan berbagi pengetahuan
Ada pepatah mengtakan, “Memberi tidak akan berkurang, tetapi justru akan bertambah”. Demikanlah, ketika ilmu pengetahuan yang kita miliki disampaikan, dibagikan, dan diinformasikan pada orang lain, maka pengetahuan akan makin bertambah, lebih dikuasai, pemahaman makin jelas, dan pengertiannya makin mantap. Demikian juga, Pangeran Siddharta dengan berbagi pengetahuan, kepandaiannya makin sempurna, pengetahuannya makin bertambah, pemahaman makin jelas, dan pengertiannya makin mantap. Pangeran Siddharta selalu berbagi pengetahuan pada orang lain. Pangeran menceritakan pada orang lain tentang manfaat meditasi, berkah cinta kasih, pahala kasih sayang, dan lain-lain. Demikianlah, Pangeran Siddharta meditasinya makin hari makin baik. Praktik cinta kasihnya makin hari makin berkembang. Kasih sayangnya makin hari makin meluas. Inilah manfaat dari berbagi pengetahuan bagi orang lain.

Belajar Mandiri
Di sebuah hutan tropis terdapat berbagai jenis binatang yang hidup rukun dan damai. Ada binatang melata sampai binatang yang terbang dan berbagai jenis tanaman, mulai dari tanaman merambat sampai dengan pohon yang besar hidup saling berdampingan. Di sana hiduplah keluarga burung parkit. Keluarga ini memiliki dua orang anak yang begitu lucu dan penurut. Keluarga ini juga hidup begitu rukun antara anggota keluarganya. Mereka saling menyayangi satu dengan yang lain. Dalam keluarga ini semua mengambil peranan sesuai dengan tugasnya masing-masing. Ayah burung parkit mengajarkan kedua anaknya untuk dapat hidup mandiri di mana pun kelak mereka berada. Berbagai pengalaman dan pengetahuan dibagi dan diajarkannya, sebagai bekal bagi mereka suatu saat nanti.

Cara Belajar Pangeran Siddharta

Sementara sang ibu membesarkan kedua anaknya dengan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Sehingga kedua anaknya dapat belajar mengetahui arti kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya. Anak-anak itu tumbuh sebagai anakanak dengan kepribadian yang baik. Anak sulung keluarga parkit adalah seekor betina. Saat ini tumbuh sebagai parkit muda yang dikaruniai dengan bulu yang elok. Di hutan tersebut parkit muda lumayan terkenal dan menjadi salah satu primadona. Kendati demikian parkit muda tidak pernah menjadi sombong. Parkit muda memiliki suatu pengharapan untuk dapat menjadi seekor burung parkit yang mandiri suatu hari kelak. Selama di hutan parkit muda membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan dan melatih dirinya lebih keras. Sebab dia sadar bahwa kehidupan di luar hutan yang jauh dari orang tua pasti akan lebih berat lagi. Parkit muda juga menyadari keelokan yang dia miliki mungkin saja suatu saat akan membawanya kedalam bahaya. Kini parkit muda sudah dapat terbang dengan lancar dan sudah saatnya untuk menjalani kehidupan di luar hutan. Ada kekhawatiran tersendiri dalam hati orang tuanya. Tapi mereka memberikan kepercayaan yang besar bahwa dia dapat menjaga dirinya dengan baik. Pada hari yang sudah ditetapkan kedua orang tua dan adik si parkit pun melepaskan kepergiannya. Mereka berpesan: “Kami akan selalu ada untukmu saat sayap kecilmu mulai lelah dan kehilangan arah ingatlah ada kami disini”. Dengan mantap parkit muda mengepakan sayapnya dan terbang meninggalkan hutan.

Komentar